Home » » MENTARI YANG MEREDUP

MENTARI YANG MEREDUP

Karin berdiri tercenung,tatapannya kosong memandang jauh tanpa batas.Sorak-sorai dari lapangan basket tak membuatnya tertarik melongok kesana.Dari beranda kelasnya di lantai dua gedung sekolah,terlihat wajahnya murung lantaran diliputi rasa sedih.Ia tak habis pikir sikap Fani yang tiba-tiba berubah.Fani sahabat terbaiknya yang pernah ia miliki semenjak berada di kota itu"Jadi apa artinya semua ini,"gumamnya lirih sembari memandangi semua pemberian Fani yang lagi ia kenakan,sepatu,seragam sampai dengan tas sekolahnya semuanya pemberian Fani.Hari pertama sekolah yang ia tunggu-tunggu selama beberapa minggu liburan berbuah kesedihan.Selama liburan ia tak bertemu Fani lantaran sahabatnya itu berlibur ke luar negeri bersama kedua orang tuanya.

Selama ini Karin tak pernah memiliki teman sebaik Fani.Sifat mereka yang mempunyai banyak kemiripan membuat persahabatan mereka semakin akrab.Keduanya suka berpenampilan apa adanya walaupun demikian banyak juga cowok-cowok di sekolah itu yang tertarik pada mereka.Karin sering menjadi buah bibir teman-teman karena parasnya yang cantik,hidungnya mancung,tingginya yang semampai dan rambutnya yang panjang membuat kecantikanya semakin sempurna.Fani memang tak secantik Karin tetapi Fani merupakan salah satu murid yang paling diperhitungkan di sekolah,selain karena pintar ia juga aktif di organisasi.Dari teman-teman sampai kepala sekolah sangat mengaguminya.

Sikap Fani yang dingin menyambut kedatangan Karin.Awalnya ia tidak menyadari perubahan itu,ia pikir sifat Fani menjadi begitu lantaran mereka sudah lama tak bertemu saja.Firasat buruk seketika terlintas dibenaknya ketika mengetahui siapa yang berada di samping Fani,Ria.Murid yang sering dihindari orang–orang satu sekolahan.Ia terkenal karena tabiat jeleknya memang cantik, penampilanya juga selalu modis namun kebanyakan teman-temanya enggan mendekatinya selain sifatnya yang angkuh ia juga terkenal licik,apapun pasti ia lakukan untuk mendapat apa yang ia inginkan.Mereka asik mengobrol solah-olah tak mengetahui kehadiran Karin didepan mereka.Beberapa menit kemudian dengan entengnya tanpa peduli perasaan Karin yang akan terluka Fani berkata dengan ketus"Ria kini akan jadi teman sebangkuku,"Fani yang biasa lembut dan tak pernah berkata kasar terlihat jauh berbeda pada pagi itu,Ria yang duduk di sebelahnya tersenyum sinis penuh kemenangan.Saat yang telah dinanti-nantinya selama ini permusuhan antara dua sahabat karib itu akhirnya terjadi juga.Karin masih berdiri di sisi meja Fani dengan ribuan pertanyaan dadanya terasa sesak menahan perasaanya yang bergejolak"Fan kok jadi kayak gini?"tanyanya ingin penjelasan,"Aku mau cari suasana baru aja"ujar sahabatnya itu lagi,ia berdiri dikuti Ria,dari balik kacamatanya terpancar rona kebencian,ia memandang Karin seperti tak pernah mengenal sebelumnya.Karin terus berusaha mengendalikan keadaan berharap Fani akan berubah pikiran" Tunggu dulu Fan sebenarnya ada masalah apa sehingga kamu berubah jadi seperti ini,kita kan bisa selesaikan dengan baik-baik,"ia memegang lengan tangan Fani mencegahnya pergi,namun kasarnya Fani mengibaskan tangannya sehingga pegangan Karin terlepas"Sudah…sudahlah,bawel banget sih loe,yuk Fan ngapain diladenin"Ria menarik tangan Fani meninggalkan Tias tanpa mau peduli hancurnya hati gadis itu.Bagai kerbau yang di tusuk hidungnya Fani mengikut saja padahal selama ini ia paling tidak suka dengan gadis itu.

"Hei….di sini loe rupanya."kedatangan Rei dan Aji membuatnya terperanjat kaget"Di cariin di mana-mana rupanya bengong di sini"timpal Aji.Kedunya tampak gembira bertemu ,Namun seketika kegembiraan mereka itu berubah melihat mata karin yang berkaca-kaca,"Lo kok kamu jadi bersedih kayak gini emangnya ada masalah apa,"ujar Rei penuh selidik.Awalnya ia tak ingin menceritakan apa yang telah terjadi padanya,tetapi kedua cowok itu terus mendesak sehingga ia tak bisa mengelak lagi dengan terbata-bata dan disertai isak tangis ia menceritakan perubahan sikap Fani pagi itu.

Pertemuan Karin,Rei dan Aji hanya kebetulan semata,hari pertama liburan sepulang jalan-jalan di mall Karin mampir di sebuah warung makan pinggir jalan.Di sana ia bertemu Rei dan Aji karena duduk mereka saling berhadapan meski tak mengenal tanpa ragu-ragu keduanya mengajak Karin ikut dalam obrolan mereka.Begitu senangnya kedua cowok itu ketika tahu Karin satu sekolah dengan mereka dan yang semakin membuat mereka senang Karin adalah sahabat Fani orang yang selama ini dekat dengan Rei,obrolan kali itu berbuahkan rencana mengisi liburan bersama dan akhirnya persahabatan mereka terjalin.

Satu minggu telah berlalu hari-hari Karin selalu merasa dalam dilema.Sikap Fani yang semakin memusuhinya tanpa ia tahu alasanya dan kehadiran Rei dan Aji.Mengganti Fani dengan sahabat-sahabat baru sebenarnya sangat mudah,tapi tidak bagi Tias.Fani sangat berarti baginya karena dialah yang pertama mengajarinya untuk menjadi orang yang tegar dan berpikiran maju.Setelah pergi dari rumahnya lantaran tidak tahan akan keegoan kedua orang tuanya yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Ia pergi tanpa tujuan akhirnya terdampar di kota ini,bertemu Fani dan keluarganya.

Rei dan Aji tak tinggal diam menghadapi permasalahan yang sedang di alami Karin.Tanpa sepengetahuan Karin merencanakan mempertemukan kedua sahabat yang sedang bersiteru itu.Perselisihan antara Karin dan Fani juga berdampak pada mereka jangankan menyelesaikan tugas-tugas organisasi yang mereka tangani bersama untuk menegur saja Fani tak pernah mau lagi.

Di rumahnya Fani telah siap untuk pergi penampilannya kali ini lebih glamor,rambut nya yang bisanya terikat kini ia biarkan tergerai,kaca mata tak lagi ia kenakan pakaianya pun rada terbuka sehingga sebagian tubuh moleknya tersingkap.Setelah tak lagi berteman dengan Karin,Fani banyak berubah baik dalam penampilan maupun sikapnya.Pertemanannya dengan Ria membuatnya cenderung membawakan gaya hidup Ria pada dirinya"Karin kamu pasti akan kalah bersaing bersaing denganku"ucapnya penuh kebencian saat berkaca di depan cermin yang berada di kamar tidurnya.

Fani tiba pada waktu yang tak tepat sebelum Rei sempat mengatakan apa yang akan terjadi pada Karin dan Aji tak berada pada waktu itu,beberapa saat sebelum Fani datang Aji didera sakit perut sehingga ia buru-buru ke toilet.Betapa kagetnya Fani ketika melihat Rei duduk berdua bersama Karin wajahnya yang tadinya berseri-senahan mendadak memerah menahan amarah,emosi dan amarahnya yang selama ini ia pendam meluncur deras bak air bah keluar dari mulutnya"Jadi kamu cuma mau liatin ini ya sama aku,dasar tak punya perasaan,"tanpa basa-basi ia memberondong dengan kata-kata kasar.Tias yang tak tau-menau kaget setengah mati menatap Rei dalam meminta panjelasan.Rei yang hanya sendiri sedangkan Aji yang ia tunggu-tunggu belum juga kembali menjadi kelabakan.Ia bangkit dari duduknya berusaha semampunya menguasai keadaan"Jangan marah-marah dulu dong kita disini mau nyelesain masalah kalian berdua kok,"namun kata-kata itu tak lagi bisa menahan amarah Fani,Karin tak tau harus berbuat apa ia hanya terpaku menerima perlakuan Fani

"Rupanya kamu lebih suka padanya orang yang tak tau asal-usulnya,heh…."

"Fan loe gak boleh ngomong kayak gitu dong emangnya Karin salah apa sama loe sampai loe berubah sebegini drastisnya sampai-sampai kita-kita juga loe diamin emangnya ada apa antara kalian."

Rei terus membujuk agar mau bicara baik-baik namun apa mau dikata Fani terlalu emosi dibuatnya"Perlu tau Rin kalau aku tau jadinya kayak aku dan orang tua ku tak akan bantuin kamu dahulu,bantuin segalanya,"tanpa peduli pengunjung yang lain memperhatikanya ia terus memaki-maki Karin"Aku baru sadar Rin kamu pagar makan tanaman,mulai saaat ini persabatan kita putus,kamu memang tak pantas jadi sahabatku,dan jangan lagi pernah berharap," kemudian Fani meninggalkan mereka,Terlihat beberapa pengunjung berbisik-bisik membicarakan keributan yang baru tejadi.Karin sesenggukan menahan tangisnya air mata juga terlihat di sudut mata Rei,mata yang biasanya garang akirnya akhirnya luluh juga ikut merasakan kesedian sahabatnya"Sabar ya Rin,kami akan selalu bersama kamu kok biarin aja tuk apa lagi di temanin orang kayak gitu,"Rei menggengam tangan Karin memberikan semangat namun kata-kata Fani terlanjur membuat hatinya hancur,penilaianya selama ini terhadap Fani menjadi berubah Fani yang selalu ia elu-elukan rupanya tak sebaik yang ia kira"Aku memang tak pantas berteman dengan orang dengan mereka"bisiknya dalam perasaan terpukul sedih kecewa bercapur aduk di hatinya akhinya ia membuat keputusan yang sangat berat.Ia pun beranjak dari tempat duduknya dan melangkah pergi.Rei teperanjat melihat kepergian Karin"Rin…..Karin."panggilnya,ia pun bangkit dan menyusul.tanpa menoleh kebelakang Karin mempercepat langkahnya Rei berusaha mengejarnya namun sia-sia Ia keburu pergi dengan sepeda motornya.Sepeninggal Karin,Rei teduduk lesu tetes demi tetes air mata mengalir dari pipinya badannya yang biasa tegar lesu tanpa daya.

Aji datang beberapa menit setelah Fani dan Karin pergi sehingga ia tak melihat apa yang terjadi.

Hari mulai beranjak gelap Ari dan Rei meniggalkan kafe itu dengan penuh kekecewaan sebelum pulang kerumah mereka mampir ke tempat kos Karin berharap gadis itu berada disana namun menurut pemilik tempat kosnya ia juga belum pulang.

Di tempat lain hingga malam larut Karin masih di atas sepeda motor tanpa tujuan menyusuri jalanan yang masih ramai di lewati kendaraan.Pikirannya galau hidupnya terasa tak ada artinya.Akhirnya di depan sebuah club malam sepeda motornya ia hentikan,ada bimbang dihatinya dari dulu tempat itu tabu baginya namun ia merasa tak punya pilihan lain"Yah ini mungkin sudah menjadi nasibku."keluhnya sembari menghapus air mata yang masih membasahi pipinya.

Hingar-bingar suara musik dan puluhan orang menari tak karuan membuat Karin linglung tak tau apa yang akan dia lakukan,tingkah lakunya yang kebingungan diperhatikan oleh sekelompok wanita yang tengah berpesta minuman.Salah seorang dari mereka yang berwajah bule menghampirinya dan mengajak bergabung bersama mereka.

Dengan keramahan Janet,tak terlalu lama berpikir Karin mengikuti ajakannya Tanpa ada rasa was-was dengan penampilan Janet dan teman-teman.Janet memperkenalkan teman-temannya,bagi Karin yang tengah berada dalam kekalutan mereka teman yang cukup baik. seperti orang yang telah kenal lama,tak ada canggungnya mereka menghibur Karin yang lagi sedih layaknya seorang kakak pada adiknya,hanya berjalan bebererapa menit mereka telah terasa akrab.

Janet beserta tiga orang temanya Andin,Laura,Ran mereka mahasiswa sebuah perguruan tinggi di kota itu.Janet ikut pertukaran mahasiswa dari negaranya ke indonesia,tapi mereka bukanlah sebaik yang dipikirkan Karin.Janet yang terbiasa hidup bebas di negaranya membawa kebiasaanya itu dalam pergaulanya bersama Andin Laura,dan Ran.

Malam semakin larut obrolan mereka semakin asik.Karin awalnya menolak ketika dipaksa Janet menegak minuman dan sempat muntah waktu pertama merasakan minuman yang memabukkan itu,namun di gelas kedua dan seterusnya ia mulai terbiasa.

"Ha….ha…ha…."Janet,Laura,Andin,Ran tertawa diselingi tepuk tangan mereka melihat Tias kembali menghabiskan isi gelasnya.

"Good…..good itu baru our friend ya nggak."ujar Janet yang hampir fasih berbahasa Indonesia.Ia menuangkan minuman lagi kedalam gelas Karin yang telah kosong.

"Ya santai aja lagi ngapain masalah dipikirian,lebih baik kita happy-happy." Ran kemudian mengedipkan matanya sembari tersenyum-senyum kearah teman-temanya.Bagaikan sebuah kode saja mereka berempat saling mendekat dan berbisik-bisik,janet mengangguk-angguk sambil berkata lirih,"No problem,barang kita masih banyak kok."mereka kembali duduk seperti semula Karin duduk di antara Andin dan Ran sedang kan Janet dan Laura duduk berhadapan denganya.Dari dalam tasnya Janet mengeluarkan satu kantong kecil yang berisi pil-pil berwarna putih,"Cobain pasti enak."ia menyodorkanya pada Karin,karena pengaruh alcohol mulai bereaksi Karin tak lagi bias berpikir jernih lagi tanpa ragu-ragu butir demi butir pil yang ada di dalam ia telan.

Mereka pun kembali tertawa-tawa melihat tingkah Karin yang menenggak seluruh isiny.Asap rokok mereka terus mengepul-ngepul keudara sesekali mereka menambahi isi gelasnya yang habis.Obrolan mereka terus berlanjut dan tak lagi mengikut sertakan Karin karena ia telah terkulai lemah bertumpu ke sisi meja.Gelak tawa Janet dan teman-temanya tak lagi terpedulikan olehnya belasan gelas yang habis di tambah pil setan yang ditawarkan Janet telah membawanya dalam mimpi yang panjang.Hari semakin larut keempat orang itu pun mulai capek.Membangun kan Karin,Jane menggoyang-goyang yang terlihat tertidur pulas Namun tak ada tampak reaksinya.Wajah gusar mulai tampak dari keempat orang itu.Laura mengangkat kepala Karin yang telah terkulai lemah dari mulutnya keluar cairan putih yang berbusa wajahnya pucat pasi"Oh my God,mungkin dia overdosis dengan kita punya obat tadi"

Para pengunjung telah sepi,beberapa orang yang masih tertinggal terlihat tengah mabuk berat.Ran memeriksa kantong jeans yang kenakan Karin,ia menemukan dompet dan hp disana, ia menyodorkan hp Karin ke tangan Janet.Didalam hand phone Karin,Janet menemukan beberapa sms Fani,Rei dan Aji ini pasti teman-temannya pikirnya mula-mula Janet menghubungi Fani.Fani waktu itu tengah tertidur pulas tersentak bangun lantaran mendengar hp berdering saat melihat nomor Karin yang muncul di layar hp nya lansung ia matikan.

"'Dimatikannya."Janet menatap ketiga temannya bergantian minta pertimbangan.

"Coba nomor yang lain aja mana tau bisa!"usul Laura dan Andin

Dengan perasaan yang tak yakin Janet menghubungi no hp Rei.Setelah peristiwa di kafe sore itu dan berkeliling mencari Karin karena telah larut malam Rei memutuskan menginap di rumah Aji.Sampai selarut larut itu belum ada dari mereka yang dapat memejamkan mata larut dalam pikiran mereka masing-masing memikirkan Karin yang pergi entah kemana.Aji dan Re duduk disisi tempat tidur wajah mereka yang sayu tampak sangat bersalah.Hp Rei yang berada diatas meja belajar Aji berdering keras.Rei bergegas mengambil hpnya itu ketika melihat nomor Karin yang masuk ia berteriak riang.

" Karin Ji…Karin ngubungi kita"

"Angkat cepat Rei"Aji berdiri dan menghampiri Rei

Namun alang kah kagetnya ia karena suara yang terdengar bukannya suara Karin melainkan suara orang lain.

"Karin dimana?"tanpa basa basi ia menanyakan keberadaan Karin,mereka sangat cemasnya akan keselamatan sahabatnya itu.Mereka memikirkan dalam kekalutan Karin mungkin akan melakukan sesuatu yang tidak diinginkan.

"Teman kamu ada disini,"ia menyebutkan alamat club malam itu tempat mereka berada Janet langsung mematikan hp nya tanpa membiarkan Rei bertanya lebih jauh.Seakan sudah tahu saja apa yang harus mereka lakukan.Janet dan teman-temannya menginggalkaan Karin begitu saja.Mereka takut apa bila terjadi apa-apa pastilah mereka yang akan dipersalahkan.

Menangkap firasat buruk sehingga tanpa pikir panjang mereka pergi menuju alamat yang di berikan Janet.Aji mengemudi mobil ayahnya dengan kecepatan tinggi membelah kedingan hari menjelang pagi.

Aji dan Rey memburu masuk kedalam kafe.Pengunjung sudah tak tampak lagi cuma ada beberapa orang pegawai yang sedang mengelilingi sebuah meja.Mereka langsung menghampiri para pegawai itu dan yang mereka takutkan kini terpampang di depan mata mereka.Aji menegakkan badan Karin namun tak bisa karena tubuhnya telah terkulai lemah w Rei dan Aji sangat melihat kondisi Karin yang sangat menyedihkan "Rin….Karin bangun………bangun."mereka berusaha membangun kan namun gadis itu masih tetap membisu Rei memeriksa detak jantungnya"Masih berdetak Ji,Tapi dia tidak bangun-bangun juga"semua pelayan yang mereka tanyai tak ada yang tau kejadian yang menimpa Karin,tak ingin keadaan Karin semakin parah Aji dan Rei membawanya kerumah sakit.

Mujur karena jalan masih sepi Cuma beberapa menit mereka telah sampai kerumah sakit yang paling dekat dengan tempat itu.Dikawal seorang dokter,beberapa perawat langsung membawa Karin ke ruang ICU.Rei dan Aji hanya bisa mengantar sampai depan ruangan setelah itu pintu di tutup oleh dokter tinggallah mereka berdua dihantui perasaan sangat cemas.Karin dibaringkan di atas tempat tidur dalam ruang ICU.Perawat memasang Infus dan selang oksigen di hidungnya,Dokter menempelkan alat pacu jantung di dada beberapa kali tubuhnya terlonjak.Dokter dan perawat bekerja sangat keras untuk membuat Karin sadar berlahan grafik dilayar monitor kerja jantung Karin mulai bergerak naik,tapi masih jauh dari normal mata"Pantau terus kodisinya belum ada tanda-tanda dia akan segera siuman,saya akan menemui keluarganya."ia keluar ruangan menemui Aji dan Rei. Lantaran orang tua Karin tak ada jadi kepada mereka dokter mengutarakan kondisi Karin"Teman kalian masih belum sadarkan diri dia terlalu banyak minum minuman beralkohol dan juga memakai sejenis narkotika,kami sudah berusaha menyadarkanya,saat ini kita hanya bisa berdoa untuk kesembuhanya"dokter memperbolehkan mereka melihat Karin.Suasana sedih semakin menyeliputi mereka melihat kenyataan sahabat mereka terlelap tanpa tau apa yang akan terjadi.Isak tangis keduanya saling bersahutan Rey berdiri di sisi kanan tempat tidur sedangkan Aji berdiri di sisi yang lain mereka sama-sama memegangi tangan sahabat mereka itu,mata mereka tak lepas melihat Karin berharap akan membuka matanya.

Di kelas Fani siswa-siswanya baru bersiap-siap pulang.Fani yang duduk dikursi paling depan melihat kedatangan Rei dengan tatapan sinis"Tuh liat deh,pasti dia mau cari pacar barunya itu."ujar Fani pada Ria yang duduk di samping kursinya.Ria yang kini telah menggantikan posisi Karin.Ria menanggapinya dengan kata-kata yang semakin memanaskan hati Fani"Ya…ialah secara gitu,mungkin menurut mereka dia lebih menarik ketimbang kamu kali Fan,tapi betapa bodohnya ya."Fani melengus mengiyakan.Kenangan indah bersama Karin,Aji,dan Rei membanyang di pelupuk matanya.Dua tahun berlalu,sebagian besar waktunya berlalu hanya bersama ketiga orang itu.Karin yang selalu di sampingnya baik dalam suka maupun duka.Masalahnya pasti juga akan menjadi masalah Karin begitu juga sebaliknya.Rei dan Aji temanya satu organisasi juga tak jauh berbeda mereka teman yang baik baginya.Lebih lagi Rei,Fani sangat mengagumi cowok itu walaupun tak pernah sempat ia ungkapkan.Rei sebenarnya juga memiliki perasaan sama tapi selalu saja ia tolak karena tak ingin prestasinya menjadi menurun apabila memiliki pacar. Rasa cemburu selalu menghinggapinya jika mengetahui Rei jalan dengan gadis lain itu lah salah satu penyebab ia langsung saja percaya ucapan Ria."Fan orang udah pada pulang tuh."Ria menggoyang-goyang pundak Fani yang tengah larut dalam pikiranya'hah'Fani terperanjat kaget.Rei masuk kedalam kelas Fani dan Ria telah pasang muka yang tak bersahabat"Mau apa kesini?"tanya Fani dengan nada ketus

"Kita butuh kamu Fan,sekarang Karin di rumah sakit."

"O…dia lagi di rumah sakit ya kita turut berduka cita deh,ganjaran setimpal bagi orang yang telah menghianati sahabatnya."sebenarnya di hati kecil ada rasa iba mendengar kabar sahabatnya dari mulut Rei,tapi rasa yang selalu ia pendam membuatnya menepis semua itu,"Kamu sih Rei main-mainin perasaan Fani."celetuk Ria ingin ikut-ikutan dalam obrolan mereka. Rei terperanjat mendengarnya begitu juga Fani hal yang selama ini ia sembunyi-sembunyikan begitu mudahnya terucap dari mulut orang yang telah ia anggap sahabat"Emang benarkan kan Fan."tambahnya lagi."Aku mau ngomong sama kamu Fan."Rei kemudian menarik tangan Fani memaksanya keluar kelas"Terserah deh Fan,kamu membenci Karin sebagai mananya, tolong jelasin maksud kata-kata Ria di dalam tadi!"Fani bungkam tanpa sepatah kata yang keluar dari mulutnya di hatinya timbul kegalauan rasa bersalahnya lantaran sikapnya yang keterlaluan dan rasa cinta nya sehingga dia melakukan hal itu"Tolong Fan kami tak punya waktu lagi mengurusin sikap kamu yang tak bisa di mengerti ini,kami cuma butuh penjelasan,Karin koma lantaran masalah ini."Fani terdiam mendengar kata-kata yang otaknya berpikir keras mencari pembenaran sikap yang telah dilakukanya selama ini,namun rasa bersalah yang terlintas,lantaran rasa cinta dia mengorbankan sahabatnya sendiri"Se…sebenarnya permasalahanny seperti yang….yang di bicarakan Ria tadi.Ria bilang kalian sudah jadian waktu liburan"Rei kesal setengah mati mendengar ucapan Fani,matanya berkaca-kaca menahan perasaanya itu nada bicaranya semakin meninggi"Kapan aku permainin perasaan kamu Fan,bukanya kamu yang gak pernah memberi jawaban setiap aku minta kamu jadi pacar ku kan."Rei memegangi bahu Fani ia menatap Fani tajam menundukan wajahnya rasa malu dan bersalah membuatnya semakin terpojok.Rei kembali masuk dalam kelas dan menarik Ria dengan paksa keluar.Ria yang tak menyadari Rei akan melakakukan itu tak bisa menghindar,ia mencoba melepaskan pegangan tangan Rei tapi tak bisa,pegangan Rei terlalu kuat.Wajah Ria yang tadinya ceria berubah pucat karena kedoknya akan segera terbonkar"Apa-apaan ini,"Teriaknya sambil meronta,"Aku mau pulang aja aku nggak mau ikut campur masalah kalian."Rei terus menyeret Ria di depan Fani barulah gadis itu di lepaskanya.

Fani menatapi teman-temanya itu dengan hati yang bertanya-tanya"Kenapa kamu sampai menyebarkan gosip bahwa aku pacaran sama Karin kepada Fani."Ria tetap diam"Ayo jawab!"bentak Rei namun dia masih diam,"Kamu percaya aja Fan sama kata-katanya,aku dan Karin tak ada hubungan apa-apa,kita-kita Cuma berteman,pergi kemanapun kami selalu bertiga."

Ria terperangah wajahnya semakin pucat,"Aku pernah lihat kalian jalan bertiga,aku kira dia pacaran sama kamu,kalau dengan Aji nggak mungkinkan Aji nggak ganteng-ganteng amat.Waktu itu aku ngambil foto kamu dan mengirimkannya pada Fani."

"Emang apa sih untungnya bagi kamu nyebarin berita bohong itu?"tanya Rei dengan nada marah.

"Aku nggak suka aja liat Fani akrab sama Karin,dari teman-taman anggota OSIS aku dengar sebenarnya Fani suka sama kamu,jadi Cuma dengan cara itu aku bisa misahin mereka."Diakhir kata-kata Ria tangis Fani meledak"Jahat kamu ya,emang kami salah apa sama kamu teganya kamu hancurin persahabatan kami."jika tak dihalangi Rei,ia mungkin sudah memukul Ria.

"Sudah lah Fan tak waktunya bertengkar sekarang."

"Gue salah Rei……..salah ….teman sebaik Tias gue sia-siain begitu aja,malahan gue lebih mempecayain orang ini,maafin aku."Fani tangisnya meledak,Ria yang melihat kemarahan Fani melangkahkan kakinya meninggalkan mereka Fani mencoba mengejar tapi di tahan Rei.

"Biarkan saja dia pergi semuanya memang telah terjadi.Kita berangkat sekarang saja melihat Karin,moga-moga aja kita tak terlambat."ajak Rei,Fani menghapus air matanya yang masih terus mengalir ia mengikut saja ajakan Rei ia ingin cepat-cepat bertemu Karin.

Sepanjang perjalanan Fani banyak bertanya tentang kondisi Karin,wajahnya bertambah pucat manakala Rei meceritakan apa yang telah menimpa sahabatnya itu.Air matanya yang tadi sempat kering kembali mengalir lagi"Aku memang pantas dimarahi,dibenci aku memang……bodoh."

Sedampai mobil mereka di parkiran rumah sakit Fani buru-buru keluar.Dia berlari melintasi pekarangan depan rumah sakit menuju pintu masuk"Dia di kamar 02."teriak Rei.Fani terus berlari memasuk,para pengunjung dan petugas yang berpapasan denganya terheran-heran melihat tingkahnya yang tak karuan.Setelah mencari kian kemari akhirnya Fani menemukan kamar tempat Karin dirawat.Perasaanya bersalah semakin ia rasakan saat melihat keadaan Karin yang terbaring,kelopak matanya yang tertutup rapat beberapa buah slang terpasang di tubuhnya.Ia memeluk tubuh Karin namun sahabatnya itu tetap terdiam,matanya masih terkatup."Bangun Rin."Fani mengoyang-goyang,namun tak ada reaksi,melihat Fani yang semakin tak terkontrol Aji yang tadinya hanya memandangi mereka,memegangi Fani,"Sabar Fan….."bujuknya Fani terus meronta-ronta.Rei yang baru datang juga turut membantu menenangkan Fani.Agak lama juga akhirnya tangis Fani yang meledak-ledak itu berkurang tapi ia masih tersedu-sedu.Fani duduk di kursi yang terletak di samping tempat tidur Karin.Ia menggenggam tangan kanan Karin sambil sesekali melap air mata yang membasahi pipinya.Di sisilain tempat tidur Rei dan Aji duduk,mata mereka tak lepas menatap Karin berharap teman mereka itu akan segera bangun.Menit demi menit berlalu semua yang berada diruang itu larut dalam pikiran mereka masing-masing.Fani terperanjat kaget,jemari Karin yang tengah di genggamnya bergerak"Karin….Karin sadar."ujarnya setengah berteriak sedikit rasa bahagia terpancar diwajahnya Aji dan Rey bangkit dari duduk mereka memastikannya,"F…a..n..i."suara sangat lirih keluar dari mulut Karin,kelopak matanya yang tadinya bergerak-gerak mulai terbuka"F…a..n…i"ia mencoba untuk bangkit namun tak biasa,Fani memeluk sahabatnya itu erat tak ingin melepaskanya lagi, "Aku minta maaf Rin,selama ini aku salah…..salah"Karin tersenyum mendengar ucapan Fani,"Tapi aku sudah menuduh kamu merebut Rei dari aku,dan musuhin kamu."tanpa malu Fani mengakui perasaannya itu ia terlanjur merasa bersalahnya itu,mendengar kata-kata Fani,Aji menatap Rei mencari penjelasan dari apa yang baru ia dengar namun Rei tak memberi respon ia terus memperhatikan Karin dan Fani.Di hati kecilnya ia menyesali sikap Fani yang terlalu cemburu buta.

Karin yang tak sedikit pun menaruh rasa dendam membuat Fani semakin merasa tersudut,"Ng…nggak papa….cuma salah paham kan,aku kira kamu benar-benar membenciku."raut bahagia terpancar dari wajah gadis itu kendati sulit untuk bernafas ia tetap berusaha untuk merangkai kata-kata,"Aji,Rei makasih ya kalian telah menjadi sahabat-sahabatku untuk waktu yang singkat ini."Kejadian malam itu segar diingatanya.di tempat itu tak satupun terlihat Janet dan teman-temanya.Karin tak ingin sahabat-sahabatnya mengetahui siapa orang-orang yang telah memberinya obat-obatan dan minuman keras yang telah membuatnya seperti itu"Kamu pasti akan sembuh Yas."air mata menetes membasahi pipi Rei kata-kata Karin yang mengisyaratkan perpisahan membuat perasaanya tak menentu.Pintu kamar tebuka dokter yang menemui Aji dan Rei tadi pagi masuk wajah tampan dokter muda itu tampak kelabu.Meski Karin telah sadarkan diri,tapi berdasar hasil pemeriksaanya Karin sangat sulit di sembuhkan.Tubuhnya yang ringkih tak mampu bertahan dari serangan racun obat-obatan,ditambah minuman keras yang diberikan janet dan teman-temanya.Saat dokter akan memeriksa berkata mengejutkan semua orang yang ada di ruangan itu"Ji…..Rei….Fan…aku mau pergi….itu udah ada yang menjemput …."dia menunjuk kearah dokter"Itu dokter Rin yang akan ngobatin kamu."Aji yang dari tadinya hanya diam pun angkat bicara seperti yang lain ia pun panik setengah mati"Bukan….Rin itu dokter yang akan ngobatin kamu,"Seulas senyum mengambang di bibir gadis itu berlahan kelopak matanya tertutup,semuanya semakin bertambah panik sebelum mereka sempat perbuat apa-apa tubuh gadis itu telah terkulai tanpa nyawa,"Karin……"teriak mereka bersamaan, dokter memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Karin kemudian meletakan telujuknya didepan lobang hidung gadis itu.Fani,Rei dan Aji menunggu dengan cemas.Ia menggeleng-gelengkan kepalanya lemah,"Teman adik-adik tak biasa tertolong la……"belum samapai kata-kata itu keluar dari mulutnya tangis kembali pacah memenuhi seisi ruangan,"Karin…jangan tinggalin kita……hu…..hu….."ratap Aji dan Rei,"Karin..ini semua salah aku..salah aku…"Fani kembali menangis histeris ,meski telah meminta maaf namun hati kecilnya masih menyalah kan dirinya padahal selama ini hanya dialah orang yang paling dekat dengan karin,"Karin…….kenapa semua menjadi begini…"ratapnya.

Angin sore yang terasa dingin semakin menambah pilunya suasana.Diantara ketiga remaja itu Fani lah yang paling merasa bersalah lantaran perbuatanya sahabat yang paling dicintainya menderita di penghujung hayatnya.Padahal selama ini hanya ia yang di miliki sahabatnya itu.Entah apa yang akan terjadi selanjutnya apa
Rei masih mencintanyi?apa Aji masih mau berteman?apa reaksi mama dan papa mengetahui semua kabar tentang ia dan Karin?apa Semua orang akan menertawai,begitu juga Ria menertawai kebodohannya.Pertanyaan-pertanyaan yang berseliweran di otaknya membuat air mata bertambah deras mengair.